AKUNTABILITAS ORGANISASI MASJID : IMPLEMENTASI DAN PROBLEMATIKA

  • Andriani Andriani Politeknik Negeri Banjarmasin
  • Manik Mutiara Sadewa Politeknik Negeri Banjarmasin
  • Mahyuni Mahyuni Politeknik Negeri Banjarmasin
Keywords: masjid, laporan keuangan masjid, pengurus masjid

Abstract

Bentuk organisasi nirlaba yang diakui oleh pemerintah diatur dalam tiga jenis undang-undang yaitu UU R.I no.16 thn 2001 mengenai Yayasan, UU R.I No.17 thn 2013 mengenai organisasi kemasyarakatan (ORMAS) dan Undang-Undang R.I No. 23 tahun 2011 mengenai zakat. Berdasarkan pada tiga UU tersebut, Masjid yang mengelola berbagai kegiatan sosial akan lebih tepat jika diklasifikasikan sebagai Yayasan. Sebagai sebuah Yayasan, Masjid seringkali menghimpun dana dengan jumlah yang cukup besar dari masyarakat untuk dikelola dalam berbagai aktivitas sosial. Pengelolan dana oleh masjid menuntut profesionalitas pengurusnya agar dapat memberikan laporan penggunaan dana yang transparan dan akuntabel. Dalam rangka pelaporan dana Yayasan masjid yang dapat dipertanggungjawabkan tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah menerbitkan instrumen PSAK no.45 tentang pelaporan keuangan entitas nirlaba. Melalui penyajian laporan keuangan sesuai PSAK 45, diharapkan Yayasan masjid dapat memberikan informasi keuangan yang memenuhi harapan pembacanya. Akan tetapi alih-alih menjadikan PSAK 45 sebagai pedoman, pembuatan laporan keuangan dan sosialisasinya oleh pengurus masjid masih menjadi menjadi problematika. Padahal pelaporan dana masjid merupakan satu aspek penting yang dapat menunjukan akuntabilitas pengurus dalam mengelola dana masjid. Penelitian ini dilaksanakan untuk menelaah sejauh mana penerapan pelaporan keuangan oleh pengurus masjid di wilayah kota Banjarmasin. Selanjutnya akan didiskusikan juga mengenai masalah yang dihadapi pengurus dalam penyusunan laporan keuangan masjid dan sosialisasinya kepada masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan wawancara singkat dengan para responden. 24 masjid di wilayah Banjarmasin dipilih menjadi responden penelitian ini. Selanjutnya data yang diperoleh dari lapangan dianalisis dengan menggunakan literatur yang mendukung untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Published
2019-12-21